Air yang
jernih memang punya cara sendiri untuk membuat orang lupa waktu. Begitu sampai
di Umbul Kemanten, Klaten, perhatian saya langsung tertuju pada airnya. Jernih,
tenang, dan dasar kolamnya terlihat jelas. Di sekelilingnya ada pepohonan besar
yang membuat suasana terasa teduh, meski matahari mulai meninggi.
Sepulang
dari Magelang, kepikiran mau bermain air, akhirnya langsung melanjutkan
perjalanan menuju Klaten, katanya di sana banyak umbul yang memanjakan
mata. Dan, akhirnya dari sekian banyak Umbul saya memilih Umbul
Kemanten.
Dengan tiket masuk sepuluh ribu rupiah per orang, bisa menikmati air yang jernih sangat wort it. Begitu kaki masuk ke air, rasa panas yang tadi terasa di kulit langsung hilang. Airnya dingin dan menyegarkan. Saya mulai berenang pelan, sesekali berhenti di pinggir kolam, lalu kembali masuk ke air, ternyata airnya benar-benar sebening kaca, mungkin karena Klaten terkenal dengan sumber air pegunungan yang segar.
Paling menarik ada terapi ikan yang dipadati pengunjung, mereka duduk sambil mengobrol sembari menunggu kaki mereka digigiti oleh segerombolan ikan.
Rasanya sayang kalau buru-buru pulang. Saya pun kembali berenang. Awalnya cuma ingin menikmati air Karena airnya jernih, saya beberapa kali melihat ke bawah. Dasar kolam tampak jelas. Cahaya matahari yang menembus permukaan air membuat pantulan kecil bergerak-gerak mengikuti riak.
Saya nggak sadar sudah cukup lama berada di dalam air. Sampai suatu ketika, ketika sedang berhenti di pinggir kolam, saya mulai merasakan sesuatu pada mata. Awalnya hanya sedikit sepet dan nggak nyaman
Saya berkedip beberapa kali. Lalu mengusap bagian bawah mata. Saya pikir mungkin hanya karena kelelahan saja. Saya kembali berenang. Beberapa menit kemudian, rasa tidak nyaman itu justru semakin terasa. Mata mulai perih, seperti ada sensasi mengganjal yang membuat saya ingin segera memejamkan mata.
Saya
berhenti lagi. Kali ini lebih lama. Ketika mencoba melihat ke arah kolam, mata
terasa cepat lelah. Rasanya ingin terus berkedip dan nggak nyaman kalau terlalu
lama terbuka. Di situ saya baru sadar: ternyata yang kelelahan setelah berenang
bukan cuma badan.
Mata juga bisa ikut meminta istirahat. Dan yang paling terasa adalah timingnya.
Saya sedang berada di tempat yang justru ingin saya nikmati. Airnya sedang
enak-enaknya. Suasananya sedang menyenangkan. Tapi saya malah sibuk mengedipkan
mata dan mencari tempat untuk berteduh.
Momen berenang akhirnya harus berhenti Saya akhirnya naik dari kolam. Rambut
masih basah. Air masih menetes dari tangan dan kaki. Saya duduk di pinggir
kolam sambil memejamkan mata beberapa saat.
Ternyata ketika mata ditutup, saya baru sadar betapa silau cahaya matahari yang tadi mengenai permukaan air. Saya nggak lagi ingin melihat-lihat atau mengambil foto. Saya hanya ingin mata terasa nyaman kembali.
Saya minum air putih dan mencoba beristirahat. Saya juga nggak mengucek mata meskipun rasanya ingin sekali. Beberapa saat kemudian saya teringat sesuatu yang ada di dalam tas.
Insto DryEyes. Saya memang biasa membawanya ketika bepergian. Ukurannya kecil dan mudah diselipkan ke dalam pouch bersama barang-barang lain. Hari itu saya menggunakannya sesuai petunjuk pada kemasan.
Insto Dry Eyes mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose yang memberikan efek pelumas seperti air mata dan digunakan untuk membantu mengatasi gejala mata kering. Gejala mata kering sendiri dapat berupa mata terasa sepet dan perih. Setelah itu saya tidak langsung kembali berenang.
Saya tetap
duduk dan membiarkan mata beristirahat. Buat saya, ini bagian yang justru
penting. Ketika mata sudah memberi tanda Mata SEpet, rasanya nggak bijak
kalau langsung dipaksa kembali beraktivitas seolah nggak terjadi apa-apa. Beberapa
waktu kemudian, mata terasa lebih nyaman.
Saya mulai bisa membuka mata tanpa rasa perih seperti sebelumnya. Tetapi kali
ini saya memilih tidak langsung kembali berlama-lama di dalam air. Saya cukup
duduk di pinggir kolam dan menikmati suasana.
Ternyata
gejala kecil bisa mengubah rencana Sebelum mengalami sendiri, saya mungkin
termasuk orang yang mudah menganggap mata sepet atau perih sebagai sesuatu yang
biasa.
“Paling cuma kurang tidur karena perjalanan panjang sampai umbul Kemanten.”
“Paling karena panas.”
“Atau mungkin karena terlalau lama berada di dalam air.”
Kalimat-kalimat seperti itu terdengar sederhana. Tetapi pagi itu saya merasakan sendiri bagaimana keluhan yang awalnya kecil bisa mengubah sebuah momen yang seharusnya menyenangkan. Rencana berenang lebih lama akhirnya batal. Saya nggak lagi bebas melihat ke sekitar. Nggak lagi nyaman membuka mata terlalu lama. Bahkan untuk mengambil foto pun saya berpikir dua kali.
Padahal
saya datang ke Umbul Kemanten justru untuk menikmati suasana. Dari situ saya
mulai belajar untuk lebih peka terhadap kondisi mata. Kalau mata mulai terasa
sepet, perih, atau cepat lelah, saya nggak ingin buru-buru menganggapnya
sepele. Saya akan berhenti sebentar. Memberi mata kesempatan untuk
beristirahat. Menghindari mengucek mata. Minum cukup.
Dan ketika diperlukan, menggunakan tetes mata yang sesuai untuk membantu
mengatasi gejalanya. Untuk kondisi gejala mata kering seperti yang saya alami
hari itu, saya memilih tetesin Insto Dry Eyes.
Selama ini kalau pergi berenang, daftar barang yang saya pikirkan cukup panjang. Baju ganti, handuk, sandal, sabun dan pakaian untuk pulang. Tapi mata sering tidak masuk daftar perhatian.
Padahal
mata juga ikut bekerja selama kita beraktivitas di luar ruangan. Terlebih
ketika harus berhadapan dengan cahaya terang, angin, atau terlalu lama membuka
mata dan memandang sekitar.
Pengalaman di Umbul Kemanten membuat saya melihat hal kecil itu dengan cara
berbeda. Bukan berarti setiap mata terasa nggak nyaman pasti merupakan mata
kering. Kalau keluhan terasa berat, nyeri hebat, mata sangat merah, penglihatan
terganggu, atau nggak kunjung membaik, tentu nggak cukup hanya mengandalkan
tetes mata dan sebaiknya diperiksakan.
Tetapi untuk saya, kejadian hari itu menjadi pengingat sederhana jangan
menunggu sampai mata benar-benar mengganggu aktivitas baru mulai diperhatikan. Pulang dengan pelajaran kecil. Menjelang
pulang, saya kembali melihat kolam dari kejauhan.
Airnya masih sebening tadi. Pepohonan masih berdiri rindang. Anak-anak masih
bermain. Suara percikan air masih terdengar. Semuanya sama. Hanya rencana saya
yang sedikit berubah. Saya datang dengan keinginan berenang selama mungkin,
tetapi akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu duduk dan beristirahat. Anehnya,
saya tidak merasa kecewa. Justru dari momen sederhana itu saya mendapat
pelajaran yang mungkin akan saya bawa ke perjalanan berikutnya.
Tubuh ternyata punya banyak cara untuk meminta kita berhenti sebentar. Kadang
lewat kaki yang pegal. Kadang lewat napas yang mulai berat. Dan kadang hanya
lewat mata yang terasa sepet, perih, atau lelah. Kelihatannya memang sepele. Tetapi
kalau sampai membuat kita berhenti menikmati sesuatu yang sedang membahagiakan,
bukankah itu sudah cukup menjadi alasan untuk tidak mengabaikannya?
Sejak hari itu, ketika memasukkan perlengkapan berenang ke dalam tas, saya juga lebih ingat pada mata. Bukan untuk membuat khawatir setiap kali bepergian. Hanya untuk lebih peka. Karena menikmati tempat yang indah seperti Umbul Kemanten bukan cuma soal bisa berada di sana.
Kita juga ingin benar-benar menikmati setiap detiknya. Dan untuk itu, mata yang nyaman ternyata punya peran yang nggak kecil. Gejala mata mungkin terlihat sepele. Tapi kalau sudah mengubah momen yang kita tunggu-tunggu, jangan disepelein. #InstoDryEyes #BebasMataKering #MataSePeLejanganSepelein



Tidak ada komentar